Hutang Kita Pada Anak-anak

Teks: Hifzaila Hafni

Pagi ini suami saya kongsikan satu artikel tentang 'hutang ibu bapa kepada anak-anak' di group Facebook kami.

Hutang pada anak-anak, bagaimana ya?

Kita sering marah-marah anak. Iyalah, ada saja yang tak kena di mata kita, sedangkan anak bukannya tahu dia sedang melakukan kesalahan. Dan kita pula, salah dia sedikit sahaja tapi bukan main kita marah padahal anak langsung tak faham.

Anak pula akan terus senyum dan minta maaf pada kita. Datang peluk kaki kita. Mereka dah lupa yang kita marah tadi.

Dalam situasi saya setiap hari, saya terpaksa mengaku ada harinya memang saya tertinggi suara juga pada anak-anak. Sedang saya terkejar-kejar dengan urusan rumah, seorang demi seorang anak minta perhatian -- sedangkan saya sendiri pun tak sempat menguruskan diri saya, memang cepat benar angin naik ke kepala.

Waktu si kecil lena, teruja kita merencana pelbagai kerja dalam kepala. Malangnya lenanya terganggu dek abang-abang. Ibu tertangguh kerja lagi.  Belumpun sempat menghabiskan nasi, si kecil dah memanggil. Belum sempat selesai jemur baju, si abang minta dibuatkan susu.

Dengan kerja yang bertimbun, memang saya stres.

Namun begitulah, adakalanya kita perlukan sedikit stres untuk jadi kreatif, melonjakkan potensi positif dan belajar menanganinya dengan berhemah. Namun jika berasa stres keterlaluan, mintalah bantuan.

Ya, saya banyak berhutang dengan anak-anak. Menurut artikel tersebut, langsaikanlah hutang tersebut dengan memeluk anak. Saya harapkan dengan pelukan sebelum tidur dapat sedikit sebanyak membayar 'hutang' saya pada anak-anak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...